Klub Baca #30 – Roman Sejarah: Anak Semua Bangsa

Program Buku Untuk Semua, Divisi Perpustakaan dan Mediatek, Forum Lenteng, kembali mengadakan kegiatan baca bersama karya-karya Roman Sejarah yang telah dimulai sejak pertemuan ke-27. Pada pertemuan yang ke-30 ini, seri Roman Sejarah mengambil buku karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Anak Semua Bangsa.

Buku yang akan dibacakan disediakan oleh Perpustakaan Forum Lenteng dan peserta melakukan kegiatan membaca secara bergantian sementara peserta yang lain mendengarkan. Sembari mendengarkan, kamu bisa menggambar, membat sketsa, memotret dan bahkan makan asal tidak mengganggu kawan yang lain.

Kegiatan yang dilakukan oleh Klub Baca Buku Untuk Semua ini akan dilaksanakan pada hari Rabu, 7 Februari 2018, pukul 19:00 WIB, di Perpustakaan Forum Lenteng, Jl. H. Saidi No. 69, RT07/RW05, Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan, DKI Jakarta – 12530. Acara ini terbuka untuk umum dan dapat disaksikan pula via live streaming Facebook. Mari datang dan ramaikan!


Ulasan Peristiwa Membaca Sebuah Roman Sejarah

Bulan lalu, kami mengawali sebuah seri “Membaca Roman Sejarah” di Klub Baca Buku Untuk Semua. Roman sejarah yang kami pilih kali ini bermula dari sebuah roman sejarah Indonesia karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Bumi Manusia terbitan Hasta Mitra. Karya yang pertama kali terbit pada tahun 1980 ini kami baca tuntas dalam tiga kali pertemuan yaitu pada 27 September 2017, 5 Oktober 2017 dan 12 Oktober 2017. Jika biasanya kami membaca di Perpustakaan Forum Lenteng, kali ini kami berganti suasana dengan membaca di ruang depan Forum Lenteng.  Asti, Anggra, Zikri dan Yonri hadir pada pertemuan pertama pembacaan karya roman yang mengambil latar sejarah Indonesia pada era kolonial ini. Kemudian pada kali kedua, hadir Asti, Anggra, Yonri dan Otty. Pada pertemuan terakhir, hadir Asti, Otty, Anggra, Ragil, Hanif dan Hafiz sebagai penuntas buku yang hingga tahun 2005 ini telah diterbitkan ke 33 bahasa.[1]

Yonri tengah sejenak berhenti membuat nirmana untuk mengambil bagiannya membaca Bumi Manusia pada 27 September 2017 di ruang depan Forum Lenteng.

Belakangan ini, kami biasanya membaca sembari menggambar nirmana sebagai bagian dari studi membuat filem bersama Klub Milisi Filem. Namun tak ayal ketika babak-babak tertentu yang membuat terpingkal atau senyum-senyum dibacakan, seperti babak-babak cerita Annelies Mellema dan Minke, kami pun berhenti sejenak menggambar untuk saling lempar tatap dan tawa. Kami semua sepakat bahwa buku ini adalah salah satu buku novel terbaik yang kami bacakan bersama.

Ragil yang tengah membaca bersama dengan Otty dan Hafiz yang tengah menyimak. Sesi ini dilakukan pada 12 Oktober 2017.

Buku novel ini kurang lebih bertutur tentang seorang Minke, yaitu keturunan Jawa priyayi yang tengah menempuh pendidikan di HBS yang merupakan sekolah orang-orang keturunan Eropa. Dalam perjalanan studinya, Minke menjumpai seorang Nyai yang luar biasa dengan keluarganya yang juga tak biasa. Nyai Ontosoroh, begitulah ia menyebut dirinya, merupakan seorang perempuan yang tidak bersekolah, yang sejak masih gadis dijual orangtuanya hingga menjadi gundik seorang Belanda. Namun alih-alih menjadi gundik tak terdidik seperti perempuan-perempuan lain yang bernasib serupa dengannya, Nyai Ontosoroh justru menjelma menjadi seorang perempuan cerdas yang tangkas dan berpengalaman dalam mengelola bisnis. Anaknya yang bernama Annelies Mellema pun sama-sama piawai dalam menjadi rekan pengelola bisnis. Keduanya hidup dalam sebuah keluarga kaya yang tertutup dan nyaris tak tersentuh khalayak hingga kedatangan Robert Surhof yang membawa serta Minke. Minke dan Annelies saling jatuh hati lalu dimulailah babak-babak cerita tentang kehidupan kolonial melalui tuturan Minke, Annelies, Nyai Ontosoroh dan melalui orang-orang di sekitar ketiganya. Minke yang cerdas dan terampil menulis lantas belajar banyak dari Nyari Ontosoroh yang luar biasa, menjadikannya kemudian salah satu penulis pribumi yang mampu menulis dalam Bahasa Belanda dengan sangat baik dan pula dikagumi. Ia menjadi kian tajam dalam melihat fenomena kehidupan sebagai warga negara kolonial, bagaimana kondisi yang terjadi kala itu sangat tidak merugikan baginya dan terutama bagi para perempuan seperti Nyai Ontosoroh yang berstatus gundik.

Otty yang tengah membaca pada sesi 5 Oktober 2017.

Salah satu adegan yang paling disukai Otty adalah ketika Minke hendak menikah dan Ibundanya memberikan wejangan-wejangan khas tradisi Jawa. Menurut Otty, Pram menuturkan dengan baik bagaimana di sini perempuan digambarkan sebagai kekuatan kebudayaan sedangkan lelaki sebagai dominasi kekuasaan. Para Bapak hadir sebagai cerminan atas kuasa, dominasi dan hirarki yang begitu sulit dilanggar. Sedangkan para Ibu seperti cerminan atas pengetahuan, ruang belajar dan pemangku kebudayaan serta tradisi. Ada kalanya bagi saya, Pram menuliskan perempuan dengan peran yang teramat luhung atau luhur di sini. Mereka yang memberikan ilmu pengetahuan dalam roman ini, dihadirkan melalui karakter-karakter perempuan yang tak cuma cerdas tetapi juga tangguh. Ibunda Minke, Nyai Ontosoroh, Annelies Mellema hingga Magda Peters yang merupakan seorang Belanda guru Minke di HBS, adalah sosok-sosok berilmu namun berbudi luhur yang tahu persis betapa berilmu adalah bagian dari bekal kemanusiaan. Belajar seperti halnya penyelamat kala itu. Dan mungkin masih pula sangat relevan hingga hari ini, dan mungkin hingga kapanpun.

Zikri yang tengah membaca pada sesi 27 September 2017.

Hanif yang membaca pada sesi 12 Oktober 2017.

Saya sendiri berkali-kali tertohok oleh sebuah kutipan dalam buku ini yang diucapkan melalui tokoh Jean Marais, kawan Minke yang juga merupakan mantan prajurit Perancis sekaligus pelukis, yang berbunyi “Seorang terpelajar harus sudah adil sejak dalam pikiran”. Kata-kata ini memang sudah seringkali terdengar dimana-mana. Namun ketika membacanya sendiri dan mendengarnya berulang kali menjadi tasbih Minke dalam menghadapi berbagai kepelikan, membuat gaung peringatan dalam kata-kata ini semakin jelas. Seringkali justru yang terpelajarlah yang lupa menjadi adil, baik sejak di pikiran atau bahkan hingga pada perbuatan. Pram, dalam keterasingannya, telah melahirkan sebuah karya yang bicara bukan hanya soal suatu cerita pada sebuah masa kolonialisme, tapi juga tentang kemanusiaan dan pendidikan.

Hafiz Rancajale untuk pertama kalinya ikut membaca. Sesi 12 Oktober 2017.

Usai buku ini, kami masih akan lanjut membaca karya-karya sastra yang lain. Masih dengan lokasi dan waktu yang sama, yaitu di Perpustakaan Forum Lentengsetiap hari Rabu (dan Kamis jika satu tak usai), pukul 19.00 WIB. Acara membaca ini turut kami siarkan pula secara langsung via facebook .Tentu kalau mau, kamu pun dipersilakan untuk bergabung membaca bersama Klub Baca Buku Untuk Semua.***

Catatan rujukan penulis:

[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Bumi_Manusia diakses pada Selasa, 31 Oktober 2017 pukul 02.27 WIB.



Klub Baca #27: Membaca Roman Sejarah

Program Buku Untuk Semua, Divisi Perpustakaan dan Mediatek, Forum Lenteng, mengadakan kegiatan baca bersama karya-karya Roman Sejarah dimulai sejak pertemuan ke-27 ini. Buku yang akan dibacakan disediakan oleh Perpustakaan Forum Lenteng dan peserta melakukan kegiatan membaca secara bergantian sementara peserta yang lain mendengarkan. Sembari mendengarkan, kamu bisa menggambar, membat sketsa, memotret dan bahkan makan asal tidak mengganggu kawan yang lain.

Kegiatan yang dilakukan oleh Klub Baca Buku Untuk Semua ini akan dilaksanakan pada hari Rabu, 27 September 2017, pukul 19:00 WIB, di Perpustakaan Forum Lenteng, Jl. H. Saidi No. 69, RT07/RW05, Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan, DKI Jakarta – 12530. Acara ini terbuka untuk umum dan dapat disaksikan pula via live streaming Facebook. Mari datang dan ramaikan!


Kisah-kisah Pinggiran dari Lubis

Bulan ini sepertinya bulannya Lubis, ya?

Beberapa orang sempat bertanya-tanya demikian kepada saya sebagai penyelenggara Klub Baca Buku Untuk Semua. Memang, beberapa edisi terakhir ini kami membaca karya-karya sastra yang dibuat oleh Mochtar Lubis. Bukan sebuah kesengajaan sebetulnya untuk membuat sebulan penuh membaca Lubis. Sebetulnya saya lebih ingin menuntaskan koleksi Lubis di perpustakaan sebagai pemanasan membaca karya sastra Indonesia sebelum nantinya beralih ke karya sastra Indonesia lainnya.

Suasana kegiatan Klub Baca Buku Untuk Semua #26

Pada seri ke-26 ini, Klub Baca Buku Untuk Semua menghadirkan karya Bromocorah sebagai bahan bacaan. Karya yang diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia pada tahun 1993 ini merupakan antologi duabelas cerita pendek yang ditulis oleh Mochtar Lubis. Tidak jelas persisnya kapan rentang waktu penulisan dari cerita-cerita pendek tersebut, namun secara garis besar kisah-kisah di dalamnya menuturkan tentang orang-orang pinggiran dan perkara identitas di Indonesia pasca kemerdekaan.

Zikri, Dhuha dan Walay. Dhuha tengah membaca sementara Zikri dan Walay mendengarkan sambil membuat nirmana.

Otty, Yonri, Walay, Dhuha, Zikri, Yuki dan Anggra secara bergiliran membacakan satu per satu cerita pendek dalam buku tersebut. Namun kali ini, kegiatan Klub Baca tidak dilaksanakan di Perpustakaan Forum Lenteng, tetapi di ruang tengah Forum Lenteng. Meskipun pelaksanaannya mundur sehari dari rencana semula di tanggal 20 September 2017 menjadi tanggal 21 September 2017, namun antusiasme proses membaca tetap terbangun di antara para peserta yang hadir.

Otty tengah memulai ritual membaca sementara Yonri mendengarkan.

Pembacaan dibuka oleh Otty yang menyebutkan seri Klub Baca, judul buku, pengarang, penerbit, tahun terbit, tanggal pelaksanaan dan nama masing-masing peserta Klub Baca. Kemudian Otty mulai membacakan cerita pendek pertama yang juga menjadi judul dari antologi ini, Bromocorah. Selanjutnya Abu Terbakar Hangus; Hati yang Hampa; Pahlawan; Uang, Uang, Uang, Hanya Uang; Wiski; Dara; Dukun; Hidup Adalah Sebuah Permainan Rolet;Rekanan; Gelas yang Pecah; dan Perburuan dibacakan secara bergantian oleh peserta Klub Baca. Kurang lebih dari jam 19.00 hingga 00.30, kami menuntaskan buku setebal 232 halaman ini.

Yuki membacakan karya berjudul Wiski.

Sesekali kami terpingkal oleh kejenakaan yang sinis dalam karya-karya Lubis. Sesekali kami menanggapi langsung candaan atau ironi dalam cerita-cerita pendek yang dibacakan. Sehingga suasana membaca yang juga diselingi aktivitas membuat nirmana dwimatra sebagai tugas dari Lokakarya Membuat Filem menjadi ramai dan penuh semangat.

Yonri dalam sketsa karya Otty.

Anggra dalam sketsa karya Otty.

Usai pembacaan, beberapa peserta memberi komentar tentang cerita pendek yang mereka sukai. Otty paling menyukai Rekanan. Menurutnya, era awal 80-an sebagaimana yang disebutkan sebagai latar dalam cerita tersebut merupakan tahun-tahun yang menjadi cikal-bakal kelahiran generasi dan kultur yang mendewakan gaya hidup kebaratan dan kemewahan. Korupsi dan nepotisme menjadi sikap-sikap yang tidak terhindarkan terutama pada kalangan perusahaan yang berkait dengan pemerintahan. Sedangkan Yonri sangat menyukai cerita Abu Terbakar Hangus. Menurutnya, dalam cerita tersebut, segala hal bisa dilihat dari perspektif tokoh utama yaitu Safira, yang kemudian menjembatani pengenalan terhadap tokoh-tokoh lainnya, situasi sosial kala itu bahkan termasuk pula situasi politiknya. Bahkan dalam salah satu fragmen cerita, dituturkan bahwa pernikahan tokoh utama pernah melibatkan Perdana Menteri Nehru dari India sebagai penengahnya. Bagi saya, cerita yang disukai Yonri tersebut juga merefleksikan isu identitas yang muncul akibat Safira yang campuran Belanda-Jawa. Sensitivitas akan nasionalitas begitu ditonjolkan dalam keresahan Safira sebagai warga negara campuran. Bahkan keresahan ini pun berdampak pula pada kesulitannya untuk menetap pada seorang pendamping hidup. Hal yang sama pun terjadi dalam cerita Uang,Uang, Uang, Hanya Uang yang menceritakan seorang taipan Tionghoa yang mencintai Indonesia tetapi tak mampu menyampaikannya. Ironi taipan ini pun kemudian dikiaskan bersamaan dengan kerinduannya akan gadis pujaan hatinya di Indonesia. Cintanya pada si gadis dan tanah Indonesia diibaratkan sebagai sebuah cinta yang sama-sama tak terkatakan, apalagi terbalaskan.

Zikri membaca sementara Yuki mendengarkan sambil membuat nirmana.

Cerita terakhir yang berjudul Perburuan cukup mengingatkan kami akan novel Lubis yang sebelumnya kami baca, Harimau! Harimau!  Beberapa dari kami berspekulasi bahwa mungkin dari versi pendek inilah kemudian dikembangkan menjadi novel. Beberapa lainnya berpendapat barangkali malah sebaliknya. Dari semua, menurut saya cerita terakhir inilah yang paling ironis. Tokoh utama yang begitu jagoan, yang hendak segera menikah, malah rupanya harus menemui ajal akibat teriakan yang mengabarkan keberadaan harimau. Padahal, teriakan itu belum tentu benar.

Suasana kegiatan Klub Baca Buku Untuk Semua #26

 

Usai buku ini, kami masih akan lanjut membaca karya-karya sastra yang lain. Masih dengan lokasi dan waktu yang sama, yaitu di Perpustakaan Forum Lenteng, setiap hari Rabu (dan Kamis jika satu tak usai), pukul 19.00 WIB. Acara membaca ini turut kami siarkan pula secara langsung via facebook .Tentu kalau mau, kamu pun dipersilakan untuk bergabung membaca bersama Klub Baca Buku Untuk Semua.***


Klub Baca #26: Bromocorah

Program Buku Untuk Semua, Divisi Perpustakaan dan Mediatek, Forum Lenteng, mengadakan kegiatan baca bersama, buku karya Mochtar Lubis, berjudul Bromocorah (Yayasan Obor Indonesia, 1993).

Kegiatan yang dilakukan oleh Klub Baca Buku Untuk Semua ini akan dilaksanakan pada hari Rabu, 20 September 2017, pukul 19:00 WIB, di Perpustakaan Forum Lenteng, Jl. H. Saidi No. 69, RT07/RW05, Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan, DKI Jakarta – 12530. Acara ini terbuka untuk umum dan dapat disaksikan pula via live streaming Facebook. Mari datang dan ramaikan!

Dalam masyarakat yang kurang terbuka, atau sama sekali tidak terbuka, seorang anggota masyarakat yang telah dianggap mempunyai cacat, seakan seumur hidupnya harus terus-menerus dengan beban cacatnya itu. Dalam cerita pendek Bromocorah hal ini merupakan pesan utamanya. Padahal hal yang demikian sebenarnya mengingkari kemampuan manusia untuk selalu memperbaiki dirinya. Seseorang yang telah berdosa, jika dia minta ampun dengan bersungguh-sungguh masih akan diampuni oleh Tuhan. Hal ini jelas terungkap dalam cerita pendek Bromocorah, yang dipergunakan juga menjadi judul buku ini. Ada dua belas cerita pendek yang dirangkum dalam buku ini, dan semuanya telah ditulis dengan kepekaan yang besar dan ketajaman pengamatan terhadap manusia dan masyrakat Indonesia.

Cerita-cerita pendek yang dimuat dalam buku ini dapat dibaca sebagai cerita-cerita yang mengasyikkan, akan tetapi juga dapat dibaca sebagai cermin kenyataan manusia dan masyrakat di Indonesia.

[Dipetik dari sampul belakang buku]


Catatan tentang Membaca Harimau! Harimau!

Penulis: Prashasti Wilujeng

Pada hari Rabu, 13 September 2017, Harimau! Harimau! (Pustaka Jaya, 1975) menjadi buku kedua karya Mochtar Lubis yang kami baca. Dalam dua setengah putaran selama lima jam, buku setebal 216 halaman ini habis dibaca oleh Pingkan, Anggra, Dhuha, Zikri, Walay, Robby, Rayhan, Asti, dan Otty. Karya ini telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Belanda dengan judul Tiger-Tiger oleh Horlimann. Kemudian pada 1976, novel ini mendapat penghargaan buku fiksi terbaik dari Yayasan Buku Utama.[1]

Suasana kegiatan Klub Baca Buku Untuk Semua #25 di Perpustakaan Forum Lenteng

Karya penulis berlatar belakang jurnalis  ini dibuka dengan sebuah sajak dari Jose M.A. Capdevilla, yang mungkin diterjemahkan sendiri oleh Mochtar Lubis. Sajak yang singkat namun mencekam, seperti novel yang ditulisnya.

melintas ketakutan lewat sudut
jalan-jalan dan tanah lapang
meratap kengerian
angin lalu

ada yang tidur
yang lain bangun
hati berdebar cemas

turunlah hujan
semuanya teror dan sunyi sepi

 

Suasana kegiatan Klub Baca yang bisanya diwarnai pula dengan kegiatan merekam.

Pingkan tengah mendengarkan Yonri yang membaca.

Mochtar Lubis menggambarkan hubungan antarmanusia, plot, latar, dan suasana lewat watak-watak yang muncul dari tujuh orang pencari damar di hutan: Wak Katok, Pak Balam, Buyung, Sanip, Tabib, Sutan, dan Pak Haji. Perbedaan antara setiap orang, setiap generasi, dan setiap latar belakang diwakilkan di setiap tokohnya. Tokoh-tokoh yang dikumpulkan di tengah hutan, dengan suasana mencekam, yang memunculkan watak-watak asli seseorang. Selama membaca, kami dibuat tertawa terbahak, terdiam, ataupun kesal dengan bagaimana setiap tokoh merespons situasi dan keadaan hidup.

Pingkan, Yonri dan Otty tengah menyimak proses pembacaan oleh salah seorang peserta.

Asti, Rayhan, Robi dan Walay tengah menyimak Zikri yang membaca.

Saat beberapa pembaca ditanya bagian favorit, Pingkan berkata ia paling suka saat penceritaan menggunakan sudut pandang si Harimau. Bagaimana si Harimau berpikir, merasa lapar, dan menyusun taktik untuk menyergap mangsa. Dhuha sangat suka dengan keseluruhan buku ini karena ia pernah merasakan sendiri bagaimana ia berada di tengah hutan dan ketakutan disergap binatang buas. Bagian yang paling ia sukai adalah di bagian menjelang akhir saat Wak Katok dengan sengaja membuat rombongan pencari damar ini hanya berjalan memutar dan tersesat.

Dhuha tengah membacakan bagian tengah dari karya Harimau! Harimau!

Asti yang tengah membaca.

Menurut saya sendiri, Mochtar Lubis menggunakan konflik untuk menggambarkan hubungan antara manusia dengan manusia lain. Wak Katok, misalnya, menggambarkan generasi tua yang karena banyak ilmunya, ia dijjadikan guru oleh banyak orang sehingga menjadi seseorang yang terpandang di kampungnya. Pak Balam, yang sebaya dengan Wak Katok adalah orang yang dihormati oleh warga kampung karena ketaatannya dalam beribadah. Kemudian ada Buyung yang masih berumur sembilan belas tahun, masih muda, satu-satunya yang belum menikah, dan berani serta berpegang teguh pada prinsipnya. Ia merupakan murid pencak Wak Katok. Sanip, yang umurnya lebih tua beberapa tahun daripada Buyung, sudah punya empat orang anak. Sanip adalah orang yang ceria dan selalu berpikir positif. Talib, sebaliknya adalah orang yang pendiam dan pemurung. Sedangkan, Sutan adalah orang yang keras kepala. Pak Haji, yang wataknya baru jelas belakangan, adalah orang yang punya banyak pengalaman. Ia merupakan orang yang skeptis dengan manusia lain karena ia telah banyak melihat bagaimana manusia memakan manusia lain dengan tindakan jahat mereka.

Robi yang membaca dan Zikri yang menyimak.

Belakangan, baru diketahui bahwa Wak Katok adalah seorang pecundang yang egois. Sedangkan Sanip, yang selalu ceria, ternyata pernah banyak melakukan banyak kesalahan. Di sini, Mochtar Lubis menggambarkan manusia sebagai manusia seutuhnya, yang mempunyai ketakutan dan kesalahan. Manusia yang tidak digambarkan dengan hebat dan heroik.

Otty yang merupakan pencetus ide Klub Baca ini turut pula membacakan bagian-bagian karya Mochatr Lubis ini.

Usai membaca buku ini, Otty mengemukakan bahwa ia sangat suka buku ini karena penuturannya sangat filmis. Sudut pandang yang awalnya berasal dari Buyung, pindah ke Harimau, pindah lagi ke Wak Katok, lalu pindah lagi ke Buyung. Narasi dibacakan tidak hanya selalu dari sudut pandang orang ketiga, tapi berpindah juga ke orang pertama.

Suasana pelaksanaan kegiatan Klub Baca Buku Untuk Semua #25.

Usai buku ini, kami masih akan lanjut membaca karya-karya sastra yang lain. Masih dengan lokasi dan waktu yang sama, yaitu di Perpustakaan Forum Lenteng, setiap hari Rabu (dan Kamis jika satu tak usai), pukul 19.00 WIB. Acara membaca ini turut kami siarkan pula secara langsung via facebook .Tentu kalau mau, kamu pun dipersilakan untuk bergabung membaca bersama Klub Baca Buku Untuk Semua.***

Sketsa karya Yonri yang dibuat selama proses pembacaan.

Daftar Rujukan:

[1] http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Harimau-Harimau | Ensiklopedia Sastra Indonesia – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia


Klub Baca #25: Harimau! Harimau!

Program Buku Untuk Semua, Divisi Perpustakaan dan Mediatek, Forum Lenteng, mengadakan kegiatan baca bersama, buku karya Mochtar Lubis, berjudul Harimau! Harimau! (Yayasan Obor Indonesia, 2001).

Kegiatan yang dilakukan oleh Klub Baca Buku Untuk Semua ini akan dilaksanakan pada hari Rabu, 13 September 2017, pukul 19:00 WIB, di Perpustakaan Forum Lenteng, Jl. H. Saidi No. 69, RT07/RW05, Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan, DKI Jakarta – 12530. Acara ini terbuka untuk umum dan dapat disaksikan pula via live streaming Facebook. Mari datang dan ramaikan!

Harimau Harimau telah mendapat Hadiah Yayasan Buku Utama sebagai buku penulisan sastra terbaik tahun 1975. Buku ini dapat dibaca sebagai sebuah cerita petualangan di rimba raya oleh sekelompok pengumpul damar yang diburu oleh seekor harimau yang kelaparan. Berhari-hari mereka mencoba menyelamatkan diri mereka dan seorang demi seorang di antara mereka jatuh menjadi korban terkaman harimau.

 

Di tingkat lain, juga terjadi petualangan dalam diri masing-masing anggota kelompok pengumpul damar ini. Di bawah tekanan ancaman harimau yang terus-menerus memburu mereka, dalam diri meraka masing-masing, yang mempertinggi pula kesadaran mereka tentang kekuatan dan kelemahan-kelemahan para anggota kelompok mereka yang lain.

 

Di antara mereka malahan sampai pada kesadaran bahwa sebelum membunuh harimau yang memburu-buru mereka, tak kalah pentingnya ialah untuk membunuh terlebih dahulu harimau yang berada dalam setiap anak manusia.

 

Hingga halaman terakhir pembaca akan terpikat dan terpesona dengan ketegangan yang terjalin dalam karya ini. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Jerman, dan sebuah terjemahan dalam bahasa Jepang sedang dilakukan pula .

[Dipetik dari sampul belakang buku]