Ulasan Peristiwa Membaca Sebuah Roman Sejarah

Bulan lalu, kami mengawali sebuah seri “Membaca Roman Sejarah” di Klub Baca Buku Untuk Semua. Roman sejarah yang kami pilih kali ini bermula dari sebuah roman sejarah Indonesia karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Bumi Manusia terbitan Hasta Mitra. Karya yang pertama kali terbit pada tahun 1980 ini kami baca tuntas dalam tiga kali pertemuan yaitu pada 27 September 2017, 5 Oktober 2017 dan 12 Oktober 2017. Jika biasanya kami membaca di Perpustakaan Forum Lenteng, kali ini kami berganti suasana dengan membaca di ruang depan Forum Lenteng.  Asti, Anggra, Zikri dan Yonri hadir pada pertemuan pertama pembacaan karya roman yang mengambil latar sejarah Indonesia pada era kolonial ini. Kemudian pada kali kedua, hadir Asti, Anggra, Yonri dan Otty. Pada pertemuan terakhir, hadir Asti, Otty, Anggra, Ragil, Hanif dan Hafiz sebagai penuntas buku yang hingga tahun 2005 ini telah diterbitkan ke 33 bahasa.[1]

Yonri tengah sejenak berhenti membuat nirmana untuk mengambil bagiannya membaca Bumi Manusia pada 27 September 2017 di ruang depan Forum Lenteng.

Belakangan ini, kami biasanya membaca sembari menggambar nirmana sebagai bagian dari studi membuat filem bersama Klub Milisi Filem. Namun tak ayal ketika babak-babak tertentu yang membuat terpingkal atau senyum-senyum dibacakan, seperti babak-babak cerita Annelies Mellema dan Minke, kami pun berhenti sejenak menggambar untuk saling lempar tatap dan tawa. Kami semua sepakat bahwa buku ini adalah salah satu buku novel terbaik yang kami bacakan bersama.

Ragil yang tengah membaca bersama dengan Otty dan Hafiz yang tengah menyimak. Sesi ini dilakukan pada 12 Oktober 2017.

Buku novel ini kurang lebih bertutur tentang seorang Minke, yaitu keturunan Jawa priyayi yang tengah menempuh pendidikan di HBS yang merupakan sekolah orang-orang keturunan Eropa. Dalam perjalanan studinya, Minke menjumpai seorang Nyai yang luar biasa dengan keluarganya yang juga tak biasa. Nyai Ontosoroh, begitulah ia menyebut dirinya, merupakan seorang perempuan yang tidak bersekolah, yang sejak masih gadis dijual orangtuanya hingga menjadi gundik seorang Belanda. Namun alih-alih menjadi gundik tak terdidik seperti perempuan-perempuan lain yang bernasib serupa dengannya, Nyai Ontosoroh justru menjelma menjadi seorang perempuan cerdas yang tangkas dan berpengalaman dalam mengelola bisnis. Anaknya yang bernama Annelies Mellema pun sama-sama piawai dalam menjadi rekan pengelola bisnis. Keduanya hidup dalam sebuah keluarga kaya yang tertutup dan nyaris tak tersentuh khalayak hingga kedatangan Robert Surhof yang membawa serta Minke. Minke dan Annelies saling jatuh hati lalu dimulailah babak-babak cerita tentang kehidupan kolonial melalui tuturan Minke, Annelies, Nyai Ontosoroh dan melalui orang-orang di sekitar ketiganya. Minke yang cerdas dan terampil menulis lantas belajar banyak dari Nyari Ontosoroh yang luar biasa, menjadikannya kemudian salah satu penulis pribumi yang mampu menulis dalam Bahasa Belanda dengan sangat baik dan pula dikagumi. Ia menjadi kian tajam dalam melihat fenomena kehidupan sebagai warga negara kolonial, bagaimana kondisi yang terjadi kala itu sangat tidak merugikan baginya dan terutama bagi para perempuan seperti Nyai Ontosoroh yang berstatus gundik.

Otty yang tengah membaca pada sesi 5 Oktober 2017.

Salah satu adegan yang paling disukai Otty adalah ketika Minke hendak menikah dan Ibundanya memberikan wejangan-wejangan khas tradisi Jawa. Menurut Otty, Pram menuturkan dengan baik bagaimana di sini perempuan digambarkan sebagai kekuatan kebudayaan sedangkan lelaki sebagai dominasi kekuasaan. Para Bapak hadir sebagai cerminan atas kuasa, dominasi dan hirarki yang begitu sulit dilanggar. Sedangkan para Ibu seperti cerminan atas pengetahuan, ruang belajar dan pemangku kebudayaan serta tradisi. Ada kalanya bagi saya, Pram menuliskan perempuan dengan peran yang teramat luhung atau luhur di sini. Mereka yang memberikan ilmu pengetahuan dalam roman ini, dihadirkan melalui karakter-karakter perempuan yang tak cuma cerdas tetapi juga tangguh. Ibunda Minke, Nyai Ontosoroh, Annelies Mellema hingga Magda Peters yang merupakan seorang Belanda guru Minke di HBS, adalah sosok-sosok berilmu namun berbudi luhur yang tahu persis betapa berilmu adalah bagian dari bekal kemanusiaan. Belajar seperti halnya penyelamat kala itu. Dan mungkin masih pula sangat relevan hingga hari ini, dan mungkin hingga kapanpun.

Zikri yang tengah membaca pada sesi 27 September 2017.

Hanif yang membaca pada sesi 12 Oktober 2017.

Saya sendiri berkali-kali tertohok oleh sebuah kutipan dalam buku ini yang diucapkan melalui tokoh Jean Marais, kawan Minke yang juga merupakan mantan prajurit Perancis sekaligus pelukis, yang berbunyi “Seorang terpelajar harus sudah adil sejak dalam pikiran”. Kata-kata ini memang sudah seringkali terdengar dimana-mana. Namun ketika membacanya sendiri dan mendengarnya berulang kali menjadi tasbih Minke dalam menghadapi berbagai kepelikan, membuat gaung peringatan dalam kata-kata ini semakin jelas. Seringkali justru yang terpelajarlah yang lupa menjadi adil, baik sejak di pikiran atau bahkan hingga pada perbuatan. Pram, dalam keterasingannya, telah melahirkan sebuah karya yang bicara bukan hanya soal suatu cerita pada sebuah masa kolonialisme, tapi juga tentang kemanusiaan dan pendidikan.

Hafiz Rancajale untuk pertama kalinya ikut membaca. Sesi 12 Oktober 2017.

Usai buku ini, kami masih akan lanjut membaca karya-karya sastra yang lain. Masih dengan lokasi dan waktu yang sama, yaitu di Perpustakaan Forum Lentengsetiap hari Rabu (dan Kamis jika satu tak usai), pukul 19.00 WIB. Acara membaca ini turut kami siarkan pula secara langsung via facebook .Tentu kalau mau, kamu pun dipersilakan untuk bergabung membaca bersama Klub Baca Buku Untuk Semua.***

Catatan rujukan penulis:

[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Bumi_Manusia diakses pada Selasa, 31 Oktober 2017 pukul 02.27 WIB.



Kisah-kisah Pinggiran dari Lubis

Bulan ini sepertinya bulannya Lubis, ya?

Beberapa orang sempat bertanya-tanya demikian kepada saya sebagai penyelenggara Klub Baca Buku Untuk Semua. Memang, beberapa edisi terakhir ini kami membaca karya-karya sastra yang dibuat oleh Mochtar Lubis. Bukan sebuah kesengajaan sebetulnya untuk membuat sebulan penuh membaca Lubis. Sebetulnya saya lebih ingin menuntaskan koleksi Lubis di perpustakaan sebagai pemanasan membaca karya sastra Indonesia sebelum nantinya beralih ke karya sastra Indonesia lainnya.

Suasana kegiatan Klub Baca Buku Untuk Semua #26

Pada seri ke-26 ini, Klub Baca Buku Untuk Semua menghadirkan karya Bromocorah sebagai bahan bacaan. Karya yang diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia pada tahun 1993 ini merupakan antologi duabelas cerita pendek yang ditulis oleh Mochtar Lubis. Tidak jelas persisnya kapan rentang waktu penulisan dari cerita-cerita pendek tersebut, namun secara garis besar kisah-kisah di dalamnya menuturkan tentang orang-orang pinggiran dan perkara identitas di Indonesia pasca kemerdekaan.

Zikri, Dhuha dan Walay. Dhuha tengah membaca sementara Zikri dan Walay mendengarkan sambil membuat nirmana.

Otty, Yonri, Walay, Dhuha, Zikri, Yuki dan Anggra secara bergiliran membacakan satu per satu cerita pendek dalam buku tersebut. Namun kali ini, kegiatan Klub Baca tidak dilaksanakan di Perpustakaan Forum Lenteng, tetapi di ruang tengah Forum Lenteng. Meskipun pelaksanaannya mundur sehari dari rencana semula di tanggal 20 September 2017 menjadi tanggal 21 September 2017, namun antusiasme proses membaca tetap terbangun di antara para peserta yang hadir.

Otty tengah memulai ritual membaca sementara Yonri mendengarkan.

Pembacaan dibuka oleh Otty yang menyebutkan seri Klub Baca, judul buku, pengarang, penerbit, tahun terbit, tanggal pelaksanaan dan nama masing-masing peserta Klub Baca. Kemudian Otty mulai membacakan cerita pendek pertama yang juga menjadi judul dari antologi ini, Bromocorah. Selanjutnya Abu Terbakar Hangus; Hati yang Hampa; Pahlawan; Uang, Uang, Uang, Hanya Uang; Wiski; Dara; Dukun; Hidup Adalah Sebuah Permainan Rolet;Rekanan; Gelas yang Pecah; dan Perburuan dibacakan secara bergantian oleh peserta Klub Baca. Kurang lebih dari jam 19.00 hingga 00.30, kami menuntaskan buku setebal 232 halaman ini.

Yuki membacakan karya berjudul Wiski.

Sesekali kami terpingkal oleh kejenakaan yang sinis dalam karya-karya Lubis. Sesekali kami menanggapi langsung candaan atau ironi dalam cerita-cerita pendek yang dibacakan. Sehingga suasana membaca yang juga diselingi aktivitas membuat nirmana dwimatra sebagai tugas dari Lokakarya Membuat Filem menjadi ramai dan penuh semangat.

Yonri dalam sketsa karya Otty.

Anggra dalam sketsa karya Otty.

Usai pembacaan, beberapa peserta memberi komentar tentang cerita pendek yang mereka sukai. Otty paling menyukai Rekanan. Menurutnya, era awal 80-an sebagaimana yang disebutkan sebagai latar dalam cerita tersebut merupakan tahun-tahun yang menjadi cikal-bakal kelahiran generasi dan kultur yang mendewakan gaya hidup kebaratan dan kemewahan. Korupsi dan nepotisme menjadi sikap-sikap yang tidak terhindarkan terutama pada kalangan perusahaan yang berkait dengan pemerintahan. Sedangkan Yonri sangat menyukai cerita Abu Terbakar Hangus. Menurutnya, dalam cerita tersebut, segala hal bisa dilihat dari perspektif tokoh utama yaitu Safira, yang kemudian menjembatani pengenalan terhadap tokoh-tokoh lainnya, situasi sosial kala itu bahkan termasuk pula situasi politiknya. Bahkan dalam salah satu fragmen cerita, dituturkan bahwa pernikahan tokoh utama pernah melibatkan Perdana Menteri Nehru dari India sebagai penengahnya. Bagi saya, cerita yang disukai Yonri tersebut juga merefleksikan isu identitas yang muncul akibat Safira yang campuran Belanda-Jawa. Sensitivitas akan nasionalitas begitu ditonjolkan dalam keresahan Safira sebagai warga negara campuran. Bahkan keresahan ini pun berdampak pula pada kesulitannya untuk menetap pada seorang pendamping hidup. Hal yang sama pun terjadi dalam cerita Uang,Uang, Uang, Hanya Uang yang menceritakan seorang taipan Tionghoa yang mencintai Indonesia tetapi tak mampu menyampaikannya. Ironi taipan ini pun kemudian dikiaskan bersamaan dengan kerinduannya akan gadis pujaan hatinya di Indonesia. Cintanya pada si gadis dan tanah Indonesia diibaratkan sebagai sebuah cinta yang sama-sama tak terkatakan, apalagi terbalaskan.

Zikri membaca sementara Yuki mendengarkan sambil membuat nirmana.

Cerita terakhir yang berjudul Perburuan cukup mengingatkan kami akan novel Lubis yang sebelumnya kami baca, Harimau! Harimau!  Beberapa dari kami berspekulasi bahwa mungkin dari versi pendek inilah kemudian dikembangkan menjadi novel. Beberapa lainnya berpendapat barangkali malah sebaliknya. Dari semua, menurut saya cerita terakhir inilah yang paling ironis. Tokoh utama yang begitu jagoan, yang hendak segera menikah, malah rupanya harus menemui ajal akibat teriakan yang mengabarkan keberadaan harimau. Padahal, teriakan itu belum tentu benar.

Suasana kegiatan Klub Baca Buku Untuk Semua #26

 

Usai buku ini, kami masih akan lanjut membaca karya-karya sastra yang lain. Masih dengan lokasi dan waktu yang sama, yaitu di Perpustakaan Forum Lenteng, setiap hari Rabu (dan Kamis jika satu tak usai), pukul 19.00 WIB. Acara membaca ini turut kami siarkan pula secara langsung via facebook .Tentu kalau mau, kamu pun dipersilakan untuk bergabung membaca bersama Klub Baca Buku Untuk Semua.***


Catatan tentang Membaca Harimau! Harimau!

Penulis: Prashasti Wilujeng

Pada hari Rabu, 13 September 2017, Harimau! Harimau! (Pustaka Jaya, 1975) menjadi buku kedua karya Mochtar Lubis yang kami baca. Dalam dua setengah putaran selama lima jam, buku setebal 216 halaman ini habis dibaca oleh Pingkan, Anggra, Dhuha, Zikri, Walay, Robby, Rayhan, Asti, dan Otty. Karya ini telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Belanda dengan judul Tiger-Tiger oleh Horlimann. Kemudian pada 1976, novel ini mendapat penghargaan buku fiksi terbaik dari Yayasan Buku Utama.[1]

Suasana kegiatan Klub Baca Buku Untuk Semua #25 di Perpustakaan Forum Lenteng

Karya penulis berlatar belakang jurnalis  ini dibuka dengan sebuah sajak dari Jose M.A. Capdevilla, yang mungkin diterjemahkan sendiri oleh Mochtar Lubis. Sajak yang singkat namun mencekam, seperti novel yang ditulisnya.

melintas ketakutan lewat sudut
jalan-jalan dan tanah lapang
meratap kengerian
angin lalu

ada yang tidur
yang lain bangun
hati berdebar cemas

turunlah hujan
semuanya teror dan sunyi sepi

 

Suasana kegiatan Klub Baca yang bisanya diwarnai pula dengan kegiatan merekam.

Pingkan tengah mendengarkan Yonri yang membaca.

Mochtar Lubis menggambarkan hubungan antarmanusia, plot, latar, dan suasana lewat watak-watak yang muncul dari tujuh orang pencari damar di hutan: Wak Katok, Pak Balam, Buyung, Sanip, Tabib, Sutan, dan Pak Haji. Perbedaan antara setiap orang, setiap generasi, dan setiap latar belakang diwakilkan di setiap tokohnya. Tokoh-tokoh yang dikumpulkan di tengah hutan, dengan suasana mencekam, yang memunculkan watak-watak asli seseorang. Selama membaca, kami dibuat tertawa terbahak, terdiam, ataupun kesal dengan bagaimana setiap tokoh merespons situasi dan keadaan hidup.

Pingkan, Yonri dan Otty tengah menyimak proses pembacaan oleh salah seorang peserta.

Asti, Rayhan, Robi dan Walay tengah menyimak Zikri yang membaca.

Saat beberapa pembaca ditanya bagian favorit, Pingkan berkata ia paling suka saat penceritaan menggunakan sudut pandang si Harimau. Bagaimana si Harimau berpikir, merasa lapar, dan menyusun taktik untuk menyergap mangsa. Dhuha sangat suka dengan keseluruhan buku ini karena ia pernah merasakan sendiri bagaimana ia berada di tengah hutan dan ketakutan disergap binatang buas. Bagian yang paling ia sukai adalah di bagian menjelang akhir saat Wak Katok dengan sengaja membuat rombongan pencari damar ini hanya berjalan memutar dan tersesat.

Dhuha tengah membacakan bagian tengah dari karya Harimau! Harimau!

Asti yang tengah membaca.

Menurut saya sendiri, Mochtar Lubis menggunakan konflik untuk menggambarkan hubungan antara manusia dengan manusia lain. Wak Katok, misalnya, menggambarkan generasi tua yang karena banyak ilmunya, ia dijjadikan guru oleh banyak orang sehingga menjadi seseorang yang terpandang di kampungnya. Pak Balam, yang sebaya dengan Wak Katok adalah orang yang dihormati oleh warga kampung karena ketaatannya dalam beribadah. Kemudian ada Buyung yang masih berumur sembilan belas tahun, masih muda, satu-satunya yang belum menikah, dan berani serta berpegang teguh pada prinsipnya. Ia merupakan murid pencak Wak Katok. Sanip, yang umurnya lebih tua beberapa tahun daripada Buyung, sudah punya empat orang anak. Sanip adalah orang yang ceria dan selalu berpikir positif. Talib, sebaliknya adalah orang yang pendiam dan pemurung. Sedangkan, Sutan adalah orang yang keras kepala. Pak Haji, yang wataknya baru jelas belakangan, adalah orang yang punya banyak pengalaman. Ia merupakan orang yang skeptis dengan manusia lain karena ia telah banyak melihat bagaimana manusia memakan manusia lain dengan tindakan jahat mereka.

Robi yang membaca dan Zikri yang menyimak.

Belakangan, baru diketahui bahwa Wak Katok adalah seorang pecundang yang egois. Sedangkan Sanip, yang selalu ceria, ternyata pernah banyak melakukan banyak kesalahan. Di sini, Mochtar Lubis menggambarkan manusia sebagai manusia seutuhnya, yang mempunyai ketakutan dan kesalahan. Manusia yang tidak digambarkan dengan hebat dan heroik.

Otty yang merupakan pencetus ide Klub Baca ini turut pula membacakan bagian-bagian karya Mochatr Lubis ini.

Usai membaca buku ini, Otty mengemukakan bahwa ia sangat suka buku ini karena penuturannya sangat filmis. Sudut pandang yang awalnya berasal dari Buyung, pindah ke Harimau, pindah lagi ke Wak Katok, lalu pindah lagi ke Buyung. Narasi dibacakan tidak hanya selalu dari sudut pandang orang ketiga, tapi berpindah juga ke orang pertama.

Suasana pelaksanaan kegiatan Klub Baca Buku Untuk Semua #25.

Usai buku ini, kami masih akan lanjut membaca karya-karya sastra yang lain. Masih dengan lokasi dan waktu yang sama, yaitu di Perpustakaan Forum Lenteng, setiap hari Rabu (dan Kamis jika satu tak usai), pukul 19.00 WIB. Acara membaca ini turut kami siarkan pula secara langsung via facebook .Tentu kalau mau, kamu pun dipersilakan untuk bergabung membaca bersama Klub Baca Buku Untuk Semua.***

Sketsa karya Yonri yang dibuat selama proses pembacaan.

Daftar Rujukan:

[1] http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Harimau-Harimau | Ensiklopedia Sastra Indonesia – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia


Membaca Jalan Panjang Kemanusiaan

Setelah beberapa waktu terjeda oleh berbagai kesibukan pekan seni dan festival filem, Klub Baca Buku Untuk Semua akhirnya dilaksanakan kembali untuk menyegarkan kembali hadirinnya. Dilaksanakan pada 7 September 2017, KBBUS edisi ke-24 mengambil buku karya Mochtar Lubis, Jalan Tak Ada Ujung, sebagai bahan bacaan bersama kala itu. Dimulai pada pukul 19.35 dan berakhir pada pukul 24.00, prosesi pembacaan ini dihadiri oleh Anggra, Zikri, Asti, Pingkan, Ragil, Hanif, Dhuha serta kawan-kawan baru dari ARKIPEL yaitu Raras, Panji, Robi dan Walai. Meskipun beberapa kawan kemudian perlu pulang lebih awal karena satu dan lain hal, namun buku setebal 165 halaman tersebut pada akhirnya usai dibacakan bergilir oleh para hadirin yang berkumpul di Perpustakaan Forum Lenteng.

Suasana kegiatan Klub Baca Buku Untuk Semua #24 di Perpustakaan Forum Lenteng.

Buku yang diterbitkan oleh Yayasan Obor Pustaka pada tahun 2001 ini sebetulnya diterbitkan pertama kali pada tahun 1952 oleh Balai Pustaka. Karya ini dianggap sebagai salah satu karya terbaik Mochtar Lubis dan sempat mendapat penghargaan dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional. Karya ini menukil sebuah kisah kehidupan seorang guru sekolah, Guru Isa, yang terus menerus mengalami ketakutan namun kemudian justru melibatkan diri membantu gerilyawan Indonesia pada tahun-tahun ketika NICA kembali datang pasca Proklamasi Kemerdekaan.

Kanan ke kiri: Pingkan, Zikri dan Raras. Zikri tengah membacakan buku Jalan Tak Ada Ujung sementara peserta baca lainnya menyimak.

Kanan ke kiri: Robi dan Panji. Panji tengah membaca sementara Robi menyimak sembari membuat sketsa di meja.

Dhuha tengah membaca sementara terlihat Asti dan Ragil tengah menyimak.

Ketakutan yang dialami Guru Isa sebetulnya bukan cuma soal ditangkap NICA namun juga tentang bagaimana ia, sebagai lelaki, yang tak mampu lagi memenuhi kebutuhan Fatimah – istrinya. Ketakutan tersebut menjadi suatu perkara kompleks yang kerap termanifestasi melalui mimpi-mimpi buruk Guru Isa. Pada kisahnya, Guru Isa kemudian berjumpa dengan Hazil, seorang anak muda berbakat dengan ideologi kemerdekaan yang kuat, yang segala ciri dirinya adalah apa yang Guru Isa hasrati namun tak dapat ia capai. Akan tetapi pada akhir cerita, justru segalanya serba berkebalikan dan melalui jalan panjang yang tak mudah, Guru Isa akhirnya mampu berdamai dengan ketakutannya dan hidup berdampingan dengannya.

Tangkapan dari dalam Instagram Pingkan yang tengah menyiarkan secara langsung kegiatan Klub Baca.

Ragil yang tengah membaca, di dalam dan di luar bingkai Instagram live.

Pingkan, Zikri dan Asti paling menyukai adegan ketika Guru Isa dan Hazil berada dalam sel penjara dan bagaimana kemudian Guru Isa mulai belajar berdamai dengan ketakutannya. Pingkan juga menyukai adegan ketika Guru Isa bercakap-cakap dengan Salim kecil yang tengah ketakutan karena kamar yang gelap. Menurutnya, di sana Guru Isa menunjukkan sikap empatik terhadap segala jenis ketakutan tanpa menganggap remeh satu pun. Saya pribadi pun menyukai kedua adegan tersebut di atas serta menggarisbawahi transisi dimana Guru Isa melihat bahwa ketakutan di satu sisi adalah hal yang personal namun di sisi lain adalah hal yang sangat manusiawi dan setiap orang harus belajar hidup dengannya. Kemanusiaan di sana bukan lagi cuma soal kebebasan dan kemerdekaan, namun juga ketakutan-ketakutan yang secara nyata sering menjadi tantangan bagi martabat manusia itu sendiri. Sehingga jalan panjang yang terbentang sebetulnya bukan cuma soal perjuangan atas kebebasan namun juga atas usaha-usaha untuk mengumpil martabat sebagai manusia dengan nilai kemanusiannya.

Raras dan Zikri yang sama-sama menyimak pembacaan sembari membuat sketsa-sketsa di meja.

Selain menyimak pembacaan buku, para peserta biasanya membuat sketsa di atas meja.

Selain isu mengenai ketakutan dan kemanusiaan, agaknya karya ini juga menarasikan bagaimana lelaki melihat dan mengatasi kegelisahan-kegelisahan dalam dirinya. Melalui refleksi diri Guru Isa yang intens, pembaca dihantar pula untuk melihat bagaimana lelaki melihat dirinya dan melihat diri perempuan. Ketakutan Guru Isa adalah sebuah ketakutan maskulin yang dimulai pada isu yang sangat primitif namun kemudian menjangkau pula pada isu tentang lepasnya kendali dan kuasa dirinya atas hidup. Percintaan yang kemudian terjadi antara Hazil dan Fatimah justru adalah potret bagaimana lelaki melihat keidealan maskulin itu sendiri, bagaimana lelaki melihat apa yang ideal dari dan bagi feminitas perempuan serta bagaimana ketakutan Guru Isa adalah hal yang berada di luar keidealan maskulin itu sendiri.

Kanan ke kiri: Asti, Walai dan Ragil. Suasana kegiatan Klub Baca Buku Untuk Semua #24.

Usai buku ini, kami masih akan lanjut membaca karya-karya sastra yang lain. Masih dengan lokasi dan waktu yang sama, yaitu di Perpustakaan Forum Lenteng, setiap hari Rabu (dan Kamis jika satu tak usai), pukul 19.00 WIB. Acara membaca ini turut kami siarkan pula secara langsung via facebook .Tentu kalau mau, kamu pun dipersilakan untuk bergabung membaca bersama Klub Baca Buku Untuk Semua.***


Membaca Malam Elie Wiesel

Sebetulnya, kisah-kisah tentang apa yang terjadi pada kaum Yahudi di era kekuasaan Nazi di Jerman dan Eropa Timur di tahun 40-an sudah banyak kita dengar, tonton dan baca. Namun tetap saja, menjumpainya lagi pada sebuah buku cerita atau filem masih membuat kuduk merinding maupun perut mual. Walau demikian, toh kejadian-kejadian bengis seperti yang pernah berlangsung terhadap kaum Yahudi hingga hari ini masih saja terjadi, meski dengan intensitas kengerian yang tidak lagi setara dengan apa yang dikisahkan pernah terjadi di Auschwitz , Buna maupun Buchenwald.

Barangkali, keberadaan aksi-aksi bengis tersebut di hari-hari ini jugalah yang membuat kegiatan membaca novel Malam (Yayasan Obor Indonesia, 1988) karya  Elie Wiesel ini masih relevan. Bahkan, Mochtar Lubis sendiri dalam pengantar buku ini menyatakan dengan jelas bahwa menerbitkan Malam adalah sebuah aksi mengingatkan sesama untuk berbuat manusiawi dan melandaskan diri pada kasih sayang di tengah kemelut aksi memusnahkan sesama manusia. Pengingat ini juga berlaku bagi mereka yang pernah menjadi korban dan kini bertindak sebagai salah satu pelaku pula.

 

Dhuha membacakan novel Malam karya Elie Wiesel

Di sesi ke-23 Klub Baca Buku Untuk Semua yang dilaksanakan pada Rabu, 21 Juni 2017 pukul 21.00 ini, Pingkan, Dhuha, Anggra, Rayhan, Ario dan Ika hadir untuk membacakan Malam. Namun kali ini kami membaca bukan di Perpustakaan Forum Lenteng melainkan di halaman belakang Forum Lenteng. Buku ini kelihatannya memang tipis, yaitu hanya setebal 120 halaman, namun isinya yang sarat kekelaman membuat 3 jam sesi membaca terasa sangat ngilu dan berat.

Pingkan yang tengah membacakan Malam pada sesi ke-23 Klub Baca Buku Untuk Semua

Tak satupun dari kami menangis apalagi histeris. Pembacaan bisa dilakukan dengan khidmat meski sesekali ada yang sempat mual akibat membayangkan adegan daging manusia yang terbakar dan cerobong yang mengeluarkan asap berbau busuk. Beberapa yang lain geleng-geleng kepala pada kisah-kisah ngeri yang dibacakan. Pada kenyataannya, peristiwa serupa sampai hari ini masih terjadi di berbagai tempat dalam berbagai bentuk. Ini mungkin membuat kami tak lagi heran dengan level kebengisan yang bisa dicapai manusia meski tentu tetap mengejutkan mendengarnya.

Suasana membaca di Klub Baca Buku Untuk Semua #23 (kiri ke kanan: Dhuha dan Rayhan)

Dhuha merasa bagian cerita paling menohok ialah ketika ada salah seorang kawan yang berujar bahwa istrinya masih hidup. Saya sendiri terperangah pada cerita Elie mengenai prosesi penggantungan seorang anak laki-laki yang konon memiliki raut wajah malaikat yang sedih. Elie mendeskripsikan peristiwa itu layaknya laporan saja; lugas dan tanpa frasa yang sayu. Tapi kelugasannya itu malah membuat pilu, sebab ada kesan keterbiasaan pada sesuatu yang jelas di luar kebiasaan tersebut. Atau mungkin, apa yang biasa dan tak biasa bagi kita dan Elie yang hidup di kamp kala itu juga telah menjadi hal yang berbeda. Otty seusai pembacaan sempat membagi pengalamannya membaca buku ini. Ia selalu teringat adegan dimana Ayah Eliezer sekarat dan kemudian mati menjelang pembebasan tahanan di kamp. Jika ditarik pada isu yang lebih personal, barangkali selain menyinggung kemanusiaan, buku ini juga menyinggung memori tentang kehilangan dalam diri pembacanya. Sebagaimana pula yang dialami dan diceritakan oleh Elie lewat bukunya.

Suasana membaca di Klub Baca Buku Untuk Semua #23 disertai live via intasgram (kiri ke kanan: Pingkan dan Ario)

Usai buku ini, kami masih akan lanjut membaca karya-karya sastra yang lain. Masih dengan lokasi dan waktu yang sama, yaitu di Perpustakaan Forum Lenteng, setiap hari Rabu (dan Kamis jika satu tak usai), pukul 19.00 WIB. Acara membaca ini turut kami siarkan pula secara langsung via facebook .Tentu kalau mau, kamu pun dipersilakan untuk bergabung membaca bersama Klub Baca Buku Untuk Semua.***

 

 

 


Menelusuri Sejarah Dunia ala Gombrich

Penulis: Anggraeni Widhiasih

“Anak-anak yang beruntung akan dibacakan buku ini. Orang dewasa yang cerdas akan membacanya sendiri dan terbangkitkan kembali ikatannya pada semangat kemanusiaan.” – Wall Street Journal

Suasana pembacaan Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda tanggal 3 Mei 2017

Sebagaimana yang diungkapkan kutipan komentar dari sampul buku Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda (Marjin Kiri, 2015) karya Ernst H. Gombrich, kami mungkin salah satu dari sekian anak-anak yang beruntung yang pernah saling dibacakan dan membacakan buku ini. Karya sejarah yang tidak terasa seperti buku sejarah ini memuat penulisan sejarah dunia yang terrangkum dalam 40 bab, dimulai dari era sejarah awal bumi sebelum kehadiran manusia dan diakhiri dengan sebuah ulasan tentang Perang Dunia II dan akhir Perang Dingin. Ulasan yang merangkum lebih dari 4000 tahun sejarah manusia ini terbit pertama kali di tahun 1936 dan sempat dilarang beredar di Jerman pada saat rezim Nazi berkuasa. Namun kini, ia telah diterjemahkan ke dalam 30 bahasa dan terjual sedikitnya 6 juta eksemplar (keterangan dari buku).

Pingkan dan Zikri tengah mengikuti pembacaan buku Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda

Buku setebal 368 halaman ini tandas dalam lima kali sesi baca bersama-sama yaitu pada tanggal 3, 10, 24, 31 Mei dan 14 Juni 2017 di Perpustakaan Forum Lenteng yang melibatkan di antaranya Zikri, Pingkan, Aryo, Ragil, Ampyang, Melisa, Renal, Delva, Anggra, Otty, Rayhan, Hanif, Ika, Abi, Dhuha, Eka dan Asti. Biasanya, satu orang akan membacakan satu bab sejarah sementara yang lain mendengarkan dan lingkaran proses membaca berlangsung satu atau dua kali putaran dengan durasi terlama ialah 4 jam. Formasi peserta ini memang tidak selalu komplit sebab kadang-kadang para peserta berhalangan datang dan akhirnya mengikuti sesi pengulangan di luar tanggal-tanggal yang disebutkan di atas. Tidak jarang kami terpingkal, menjadi sendu, terperangah atau merasa gemas sebab terbawa oleh tutur cerita sejarah yang dituliskan oleh Gombrich dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan apik oleh Elisabeth Soeprapto-Hastrich.

Ampyang, Abi dan Ragil menjadi peserta Klub Baca #18 yang membacakan karya Gombrich

Jika pada bab pertama Gombrich bertutur tentang bumi sebelum kehadiran manusia, pada bab-bab selanjutnya ia bercerita tentang zaman prasejarah dan manusia-manusia purba, peradaban di lembah sungai Nil yaitu Mesir pada sekitar 3.100 tahun sebelum Masehi dan penemuan seni menulis pada era tersebut melalui keberadaan hieroglif serta buku yang terdiri dari lembar-lembar papirus. Kemudian ia bercerita tentang Mesopotamia, huruf paku, Raja Hamurabi dan Nebukadnezar dalam bab 4. Selanjutnya ia memperkenalkan kita kepada bangsa Yahudi dan orang-orang yang membawakan ajaran agama samawi pada permulaan sejarah. Kemudian dalam bab 6 yang hanya sepanjang dua setengah halaman, ia bercerita tentang huruf latin yang kita kenal sekarang sebagai warisan dari orang-orang Fenisia yang tinggal di kota pelabuhan Tirus dan Sidon (sekarang di Lebanon). Gombrich juga bercerita tentang Yunani kuno, Persia yang dipimpin Xerxes, peradaban di India dan di Tiongkok, tentang Iskandar Zulkarnain yang hebat, tentang orang-orang Romawi dan berdirinya peradaban Romawi kuno hingga tentang perkembangan berbagai agama di Eropa, Asia maupun Timur Tengah. Dalam bab-bab lainnya, Gombrich juga menuturkan tentang kerajaan-kerajaan di Eropa yang mulai berkembang, penaklukan-penaklukan yang terjadi, suku-suku pedalaman yang mengalami kolonialisme dan imperialisme hingga perang-perang antar kerajaan dan negara yang terjadi di sepanjang sejarah.

Sesi pembacaan tanggal 10 Mei 2017 di halaman belakang Forum Lenteng bersama Abi, Delva, Ika, Hanif, Ragil dan Anggra.

Salah satu bagian yang paling saya ingat di buku ini ialah mengenai kekuasaan Romawi di Byzantium. Gombrich mengulas perjalanan kekuasaan di Romawi mulai dari zaman Julis Caesar hingga Konstantinus dan Justinianus yang menghasilkan berdirinya kota Konstantinopel yang ternama beserta Hagia Sophia yang menjadi salah satu peninggalan penting sejarah seni rupa era Byzantium. Ulasan ini kemudian mengingatkan pada pelajaran-pelajaran mengenai Sejarah Seni Rupa Barat yang pernah dipaparkan Hafiz Rancajale setiap Senin sore. Bahwa rupanya awal perkembangan seni rupa Barat yang sangat terinspirasi dari kejayaan seni dan sastra era Yunani justru dimulai dari era Romawi dan berkembang mulanya dari ikon-ikon atau gambar-gambar yang menceritakan tentang kisah Alkitab yang dibuat di katakombe, yaitu sebuah ruang atau kuburan bawah tanah yang dulunya digunakan sebagai tempat berkumpul orang-orang kudus ketika Kristen masih terlarang di Romawi. Sehingga tak heran jika pada abad ke-8 hingga 14 Masehi atau sebelum era Pencerahan, karya-karya seni sangat mengacu pada tujuan ketuhanan dan identik dengan gambar-gambar ikon yang mana masih bisa dijumpai jejaknya pada Hagia Sophia hari ini.

Sketsa tentang pembacaan buku Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda oleh Otty Widasari.

Sketsa tentang pembacaan buku Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda oleh Otty Widasari.

Sketsa tentang pembacaan buku Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda oleh Otty Widasari.

Sketsa tentang pembacaan buku Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda oleh Otty Widasari.

Sketsa tentang pembacaan buku Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda oleh Otty Widasari.

Sementara itu, Zikri sempat mengatakan bahwa ia sangat suka bagian awal buku tentang bumi sebelum keberadaan manusia. Ia juga menyukai bagian-bagian akhir buku ketika Gombrich menggambarkan melihat kembali sejarah masa lalu sebagai suatu pengalaman melihat aliran sungai dari ketinggian. Ia terkesan pada cara penggambaran Gombrich dalam menuturkan peristiwa melihat masa lalu.

Sketsa tentang pembacaan buku Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda oleh Otty Widasari.

Sketsa tentang pembacaan buku Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda oleh Otty Widasari.

Sketsa tentang pembacaan buku Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda oleh Otty Widasari.

Sketsa tentang pembacaan buku Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda oleh Otty Widasari.

Sketsa tentang pembacaan buku Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda oleh Otty Widasari.

Sedangkan Asti paling menyukai bab-bab tentang transisi dari era Kegelapan menuju era Pencerahan. Menurutnya, istilah Kegelapan dan Pencerahan ternyata sangat Eurosentris sebab di kala Eropa tengah mengalami kegelapan, di Timur Tengah justru pengetahuan sudah mulai berkembang dan tercatat dengan baik. Pencerahan di Eropa terjadi justru setelah orang-orang Eropa yang baru kembali dari Timur Tengah membawa pengetahun dari sana ke tanah Eropa. Artinya, perspektif tentang gelap-terang sangat berpusat pada perkembangan sejarah pengetahuan dari sudut pandang Eropa saja.

Sketsa tentang pembacaan buku Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda oleh Otty Widasari.

Usai buku ini, kami masih akan lanjut membaca karya-karya sastra yang lain. Masih dengan lokasi dan waktu yang sama, yaitu di Perpustakaan Forum Lenteng, setiap hari Rabu (dan Kamis jika satu tak usai), pukul 19.00 WIB. Acara membaca ini turut kami siarkan pula secara langsung via facebook .Tentu kalau mau, kamu pun dipersilakan untuk bergabung membaca bersama Klub Baca Buku Untuk Semua.***


Sebuah Neraka ala Sartre

Penulis: Anggraeni Widhiasih

Membaca itu susah-susah gampang. Kalau bacaannya menarik dan kita tertarik, maka membaca biasanya jadi lebih gampang. Kalau bacaannya menarik tapi kita tidak tertarik, mungkin akan terasa sedikit susah. Apalagi kalau bacaannya tidak menarik dan kita tidak tertarik, pasti membaca jadi sangat susah meskipun bacaan itu punya muatan yang penting untuk diasup. Begitu pula dengan mendengarkan. Sekilas, sepertinya ia mudah. Tetapi sebetulnya, proses mendengarkan pun punya level tantangan yang juga tidak bisa disepelekan. Sebab ia sungguh membutuhkan kesediaan untuk menerima informasi sekaligus konsentrasi untuk mencernanya, terutama ketika sudah terterpa kantuk dan bosan.

Tiap Rabu malam, beberapa anggota Forum Lenteng biasanya berkumpul di Perpustakaan Forum Lenteng untuk membaca karya-karya sastra dunia bersama-sama. Seseorang akan membacakan karya tersebut dan yang lainnya akan mendengarkan sembari ‘membaca’ karya tersebut dengan cara lainnya. Proses ini dirotasi kepada seluruh peserta yang datang ke Klub Baca hingga buku tersebut tuntas dibacakan.

Maria, Zikri dan Ika mendengarkan Fauzan ‘Padang’ membacakan Pintu Terutup.

Rabu, 22 Maret 2017 kemarin adalah giliran karya Jean-Paul Sartre yang kami bacakan. Setelah belakangan sempat membacakan karya Knut Hamsun dan Albert Camus, kini Klub Baca mengajak partisipannya untuk menyambangi karya Sartre yang berjudul Pintu Tertutup (Pustaka Jaya, 1984). Ika, Zikri, Maria, Fauzan ‘Padang’, Otty dan Anggra menyanggupi ajakan tersebut. Kami memulai pembacaan Pintu Tertutup pada pukul 19.30 dan menandaskannya sekitar pukul 21.30. Seperti biasanya, pembacaan ini kami lakukan di garasi rumah Otty yang juga dijadikan lokasi Perpustakaan Forum Lenteng.

Maria, peserta magang yang juga beberapa kali mengikuti Klub Baca sembari kadang belajar melukis.

Pintu Tertutup adalah salah satu karya terpendek yang pernah dibacakan di Klub Baca. Namun jangan salah, membacakan karya ini bukanlah perihal yang mudah. Sebab karya yang ditulis saat Sartre berusia 39 tahun di tahun 1944 ini sebetulnya berbentuk naskah pertunjukan teater. Alhasil, pembacaan pun harus menyesuaikan dengan keberadaan penanda nama karakter sekaligus tanda titik duanya.

Sebagai sebuah naskah pertunjukan teater, Pintu Tertutup menyertakan karakter yang jumlahnya tidak banyak. Ia hanya bercerita tentang 3 orang yang jiwanya terkutuk yang bernama Garcin, Inez dan Estelle. Awalnya,ketiga orang itu berpikir bahwa masing-masing akan menerima siksaan sepanjang zaman, selayaknya dalam neraka. Alih-alih, ketiga nya justru ditempatkan pada suatu ruang kosong bersama-sama.

Zikri yang tengah membacakan Pintu Tertutup .

Mulanya tak seorang pun mengakui bahwa dirinya, sebetulnya, telah melakukan satu, dua atau bahkan sejumlah kejahatan yang membuat jiwanya terkutuk. Hingga akhirnya pengakuan mengalir dari ketiga orang tersebut. Masing-masing menceritakan tindakan jahat yang diperbuat selagi masih hidup di dunia. Namun rupanya, pengakuan itu tak mampu meredakan kondisi dimana keberadaan yang satu adalah siksaan bagi yang lainnya. Baik Garcin, Inez maupun Estelle terus merasa tersiksa oleh keberadaan yang lain, namun tak juga mampu pergi meninggalkan satu sama lain. Bahkan ketika pintu ruang yang tertutup itu terbuka, tidak satu pun kuasa ataupun hendak beranjak dari sana meninggalkan yang lainnya. Pada akhirnya, ketiadaan jalan keluar sebetulnya bukanlah dibuat oleh situasi melainkan oleh diri sendiri.

Selain Garcin, Inez dan Estelle, terdapat satu karakter lagi yang keberadaannya tidak terlalu menonjol. Yaitu seorang pengawal misterius yang mengantarkan ketiga orang tersebut masuk ke dalam ruangan dan menjawab sejumlah pertanyaan dari ketiga orang tersebut. Akan tetapi, saya pribadi sebetulnya bertanya-tanya tentang keberadaan pengawal tersebut

Ika yang sedang membaca bersama kamera-kamera eksperimen yang merekam dan menyiarkan proses membaca secara langsung.

Pintu Tertutup adalah salah satu karya Sartre yang menjadi medianya untuk berbicara mengenai pemikiran Eksistensialisme. Konon, karya ini juga merupakan refleksi Sartre terkait Perang Dunia II dan kekalahan yang diderita Perancis semasa peperangan tersebut. Karya ini juga menjadi salah satu karya yang sangat terkenal seiring dengan signifikannya pemikiran Sartre terkait Eksistensialisme.

Ada beberapa bagian yang menjadi favorit kami. Otty paling suka bagian ketika Garcin mengatakan bahwa neraka ialah orang lain. Perkataan tersebut menjadi kesimpulan Garcin ketika ia menyadari bahwa sebetulnya neraka justru tidak terletak di luar ruangan tersebut, melainkan pada keberadaan mereka sendiri. Sedangkan saya paling suka adegan ketika Estelle terus mencari-cari cermin untuk meyakinkan esensi keberadaan dirinya yang ia pikir tidak sedang berada di neraka. Meski ini adalah bacaan yang tidak mudah, namun pada akhirnya kami menuntaskan buku dan memahami sejumlah konsep yang ditawarkan. Salah satunya adalah tentang keterkaitan kesimpulan Garcin yang disukai Otty dengan situasi masa kini. Neraka bukan lagi sesuatu yang jauh, tapi ada di sini, di keberadaan orang lain bagi diri kita.

Gambar rekaman Otty yang sedang membaca. Ia sangat suka simpulan dari Garcin.

Usai buku ini, kami masih akan lanjut membaca karya-karya sastra yang lain. Masih dengan lokasi dan waktu yang sama, yaitu di Perpustakaan Forum Lenteng, setiap hari Rabu (dan Kamis jika satu tak usai), pukul 19.00 WIB. Acara membaca ini turut kami siarkan pula secara langsung via facebook .Tentu kalau mau, kamu pun dipersilakan untuk bergabung membaca bersama Klub Baca Buku Untuk Semua.***