Ulasan Peristiwa Membaca Sebuah Roman Sejarah

Bulan lalu, kami mengawali sebuah seri “Membaca Roman Sejarah” di Klub Baca Buku Untuk Semua. Roman sejarah yang kami pilih kali ini bermula dari sebuah roman sejarah Indonesia karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Bumi Manusia terbitan Hasta Mitra. Karya yang pertama kali terbit pada tahun 1980 ini kami baca tuntas dalam tiga kali pertemuan yaitu pada 27 September 2017, 5 Oktober 2017 dan 12 Oktober 2017. Jika biasanya kami membaca di Perpustakaan Forum Lenteng, kali ini kami berganti suasana dengan membaca di ruang depan Forum Lenteng.  Asti, Anggra, Zikri dan Yonri hadir pada pertemuan pertama pembacaan karya roman yang mengambil latar sejarah Indonesia pada era kolonial ini. Kemudian pada kali kedua, hadir Asti, Anggra, Yonri dan Otty. Pada pertemuan terakhir, hadir Asti, Otty, Anggra, Ragil, Hanif dan Hafiz sebagai penuntas buku yang hingga tahun 2005 ini telah diterbitkan ke 33 bahasa.[1]

Yonri tengah sejenak berhenti membuat nirmana untuk mengambil bagiannya membaca Bumi Manusia pada 27 September 2017 di ruang depan Forum Lenteng.

Belakangan ini, kami biasanya membaca sembari menggambar nirmana sebagai bagian dari studi membuat filem bersama Klub Milisi Filem. Namun tak ayal ketika babak-babak tertentu yang membuat terpingkal atau senyum-senyum dibacakan, seperti babak-babak cerita Annelies Mellema dan Minke, kami pun berhenti sejenak menggambar untuk saling lempar tatap dan tawa. Kami semua sepakat bahwa buku ini adalah salah satu buku novel terbaik yang kami bacakan bersama.

Ragil yang tengah membaca bersama dengan Otty dan Hafiz yang tengah menyimak. Sesi ini dilakukan pada 12 Oktober 2017.

Buku novel ini kurang lebih bertutur tentang seorang Minke, yaitu keturunan Jawa priyayi yang tengah menempuh pendidikan di HBS yang merupakan sekolah orang-orang keturunan Eropa. Dalam perjalanan studinya, Minke menjumpai seorang Nyai yang luar biasa dengan keluarganya yang juga tak biasa. Nyai Ontosoroh, begitulah ia menyebut dirinya, merupakan seorang perempuan yang tidak bersekolah, yang sejak masih gadis dijual orangtuanya hingga menjadi gundik seorang Belanda. Namun alih-alih menjadi gundik tak terdidik seperti perempuan-perempuan lain yang bernasib serupa dengannya, Nyai Ontosoroh justru menjelma menjadi seorang perempuan cerdas yang tangkas dan berpengalaman dalam mengelola bisnis. Anaknya yang bernama Annelies Mellema pun sama-sama piawai dalam menjadi rekan pengelola bisnis. Keduanya hidup dalam sebuah keluarga kaya yang tertutup dan nyaris tak tersentuh khalayak hingga kedatangan Robert Surhof yang membawa serta Minke. Minke dan Annelies saling jatuh hati lalu dimulailah babak-babak cerita tentang kehidupan kolonial melalui tuturan Minke, Annelies, Nyai Ontosoroh dan melalui orang-orang di sekitar ketiganya. Minke yang cerdas dan terampil menulis lantas belajar banyak dari Nyari Ontosoroh yang luar biasa, menjadikannya kemudian salah satu penulis pribumi yang mampu menulis dalam Bahasa Belanda dengan sangat baik dan pula dikagumi. Ia menjadi kian tajam dalam melihat fenomena kehidupan sebagai warga negara kolonial, bagaimana kondisi yang terjadi kala itu sangat tidak merugikan baginya dan terutama bagi para perempuan seperti Nyai Ontosoroh yang berstatus gundik.

Otty yang tengah membaca pada sesi 5 Oktober 2017.

Salah satu adegan yang paling disukai Otty adalah ketika Minke hendak menikah dan Ibundanya memberikan wejangan-wejangan khas tradisi Jawa. Menurut Otty, Pram menuturkan dengan baik bagaimana di sini perempuan digambarkan sebagai kekuatan kebudayaan sedangkan lelaki sebagai dominasi kekuasaan. Para Bapak hadir sebagai cerminan atas kuasa, dominasi dan hirarki yang begitu sulit dilanggar. Sedangkan para Ibu seperti cerminan atas pengetahuan, ruang belajar dan pemangku kebudayaan serta tradisi. Ada kalanya bagi saya, Pram menuliskan perempuan dengan peran yang teramat luhung atau luhur di sini. Mereka yang memberikan ilmu pengetahuan dalam roman ini, dihadirkan melalui karakter-karakter perempuan yang tak cuma cerdas tetapi juga tangguh. Ibunda Minke, Nyai Ontosoroh, Annelies Mellema hingga Magda Peters yang merupakan seorang Belanda guru Minke di HBS, adalah sosok-sosok berilmu namun berbudi luhur yang tahu persis betapa berilmu adalah bagian dari bekal kemanusiaan. Belajar seperti halnya penyelamat kala itu. Dan mungkin masih pula sangat relevan hingga hari ini, dan mungkin hingga kapanpun.

Zikri yang tengah membaca pada sesi 27 September 2017.

Hanif yang membaca pada sesi 12 Oktober 2017.

Saya sendiri berkali-kali tertohok oleh sebuah kutipan dalam buku ini yang diucapkan melalui tokoh Jean Marais, kawan Minke yang juga merupakan mantan prajurit Perancis sekaligus pelukis, yang berbunyi “Seorang terpelajar harus sudah adil sejak dalam pikiran”. Kata-kata ini memang sudah seringkali terdengar dimana-mana. Namun ketika membacanya sendiri dan mendengarnya berulang kali menjadi tasbih Minke dalam menghadapi berbagai kepelikan, membuat gaung peringatan dalam kata-kata ini semakin jelas. Seringkali justru yang terpelajarlah yang lupa menjadi adil, baik sejak di pikiran atau bahkan hingga pada perbuatan. Pram, dalam keterasingannya, telah melahirkan sebuah karya yang bicara bukan hanya soal suatu cerita pada sebuah masa kolonialisme, tapi juga tentang kemanusiaan dan pendidikan.

Hafiz Rancajale untuk pertama kalinya ikut membaca. Sesi 12 Oktober 2017.

Usai buku ini, kami masih akan lanjut membaca karya-karya sastra yang lain. Masih dengan lokasi dan waktu yang sama, yaitu di Perpustakaan Forum Lentengsetiap hari Rabu (dan Kamis jika satu tak usai), pukul 19.00 WIB. Acara membaca ini turut kami siarkan pula secara langsung via facebook .Tentu kalau mau, kamu pun dipersilakan untuk bergabung membaca bersama Klub Baca Buku Untuk Semua.***

Catatan rujukan penulis:

[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Bumi_Manusia diakses pada Selasa, 31 Oktober 2017 pukul 02.27 WIB.


Klub Baca #27: Membaca Roman Sejarah